google-site-verification: google0b900d1b6390f203.html DILEMA PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL
.

Klik salah satu iklan di bawah dan dapatkan income puluhan juta rupiah

Jumat, 01 Oktober 2010

DILEMA PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL

Di satu sisi, pantai Toro Wamba kini tengah dikembangkan sebagai salah satu zona pariwisata Kabupaten Bima oleh salah seorang pengusaha. Pengembangannya kini dicemaskan dengan kehadiran pengembangan tambak kira-kira seluas 4 hektar. Di sisi yang lain, pengembangan tambak ini merupakan usaha pengembangan ekonomi lokal Kecamatan Sape Bagian Utara. Bila keuntungan ekonomi harus digapai, lalu kemanakah sisi humanis kita terhadap alam?
LUKISAN TUHAN ITU ADALAH TORO WAMBA
Toro Wamba, benih mutiara yang tersembunyi. Tidak banyak orang tahu akan keberadaannya. Lokasi ini merupakan salah satu dari sekian banyak panorama, buah karya Yang Maha Indah yang ada di ujung pulau Sumbawa. Lokasi ini menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat untuk melakukan darmawisata. Selain itu keberadaannya juga sebagai tambang pengembangan ekonomi lokal yang dapat menghasilkan tambahan Pendapatan Asli daerah (PAD) secara tidak langsung.
Ketika musim kemarau mampir ke Wilayah Timur Indonesia, tampak jelas lokomotif kepulauan nusantara, yang memiliki sejuta keanekaragaman pantai dan panorama keindahan, gugusan mutiara di barisan Timur Samudra Hindia. Toro Wamba berada diantara rangkaian pegunungan dataran rendah, tepatnya ada diantara Dusun Lamere dengan Desa Poja. Desa lamere merupakan sebuah desa persiapan pemekaran berjarak sebelas kilometer ke arah utara Kecamatan Sape yang ditempuh melalui jalan berliku dan berkelok meliwati hamparan lahan kering yang dibiarkan terbakar matahari.
Untuk memasuki wilayah tersebut bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat sejauh 1.5 kilometer ke arah timur setelah melintasi jalan dari Kecamatan Sape menembus Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Jangan kaget, saat memasuki areal tersebut, debu-debu meneriaki laju kendaraan dan pejalan kaki, seperti badai pasir berterbangan menyambut hangat tetamunya. Harus hati-hati saat melaju roda-roda, itu karena jalannya hanya cukup untuk satu badan kendaraan roda empat, sehingga ketika berpapasan, kitapun harus rela antri.
Saat memasuki areal Toro Wamba yang luasnya 2 hektar kita disambut deburan ombak dan hamparan pasir putih sepanjang 200 meter. Air laut yang jernih, pasir berkilau sebagai pengobat penat sepanjang perjalanan. Pantai yang luar biasa, bak benih mutiara, yang diimpikan para pemburu kemewahan. Sekali berpijak seribu keinginan untuk melangkah kembali menemui pesona alamnya. Sungguh Toro Wamba adalah magis yang bernuansa romantis, yang menghantui jiwa untuk tetap berada dan berlama-lama di pantai, hingga senja mengajak kita pulang bersamanya.
Tengok saja, sejauh mata memandang, sejauh hamparan pasir putihnya, kita bisa menikmati pemandangan hamparan gugusan bukit kecil yang berhadapan dengan selat dan pulau Gilibanta, seolah-olah bukit itu berkata nikmatilah anugrah sang pencipta. Jika mata lelah memandang, menyelam adalah pilihan yang tepat. Kita bisa menikmati karang biru yang beraneka warna dan berbagai macam ikan hias. Toro Wamba benar-benar lukisan Tuhan tentang keindahan.
KECEMASAN TORO WAMBA
Pengembangan ekonomi lokal wilayah pesisir pantai belum banyak dilirik oleh Pemerintah Daerah. Padahal pengembangan wilayah pesisir merupakan salah satu alternatif bagi pengembangan ekonomi daerah yang dapat menambah pendapatan masyarakat setempat dan meningkatkan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kabupaten Bima misalnya, daerah yang ada di ujung pulau Sumbawa ini memiliki ragam kekhasan wilayah pantai berpasir putih yang indah. Sebut saja misalnya, Pantai Wane - Monta, Pantai Rontu – Langgudu, Pulau Ular – Wera, Pasir Putih –Langgudu, dan Pantai Toro Wamba – Sape.
Toro Wamba diantara sekian pantai yang ada memiliki keunikan tersendiri, seperti pasir putih yang panjang, air laut yang jernih, keindahan panorama laut dengan ragam jenis ikan dan batuan karang laut yang biru, dihadapannya terdapat bukit kecil yang menjadi daya tarik tersendiri untuk memikat siapa saja yang lewat.
Di satu sisi, pantai Toro Wamba kini tengah dikembangkan sebagai salah satu zona pariwisata Kabupaten Bima oleh salah seorang pengusaha. Pengembangannya kini dicemaskan dengan kehadiran pengembangan tambak kira-kira seluas 4 hektar. Di sisi yang lain, pengembangan tambak ini merupakan usaha pengembangan ekonomi lokal Kecamatan Sape Bagian Utara.
Kenyataan ini menjadi sangat dilematis bagi pengusaha pengelola pantai Toro Wamba. Ia mencemaskan biota laut yang merupakan salah satu kekhasan pantai Toro wamba akan terancam oleh limbah dan membunuh biota laut sekitar pantai. Jika pengembangan ini benar-benar terjadi, maka usaha pengembangan pantai Toro wamba yang sudah dilaksanakan beberapa tahun ini akan menemui jalan buntu. Ini berarti kegagalan bagi pengembangan ekonomi lokal. Pertanyaaannya, bagaimana jadinya kalau lokasi wisata pantai Toro Wamba berada diantara gugusan usaha pengembangan tambak di sekitar bibir pantai?
Malam belum larut, rasa kantuk belum bisa diajak mendendangkan mimpi, bulir-bulir cahaya rembulan menyusup sukma penjaga malam. Terbayang masa depan pantai, akan kemana bermuara tatkala pelancong enggan lagi menikmati pagi dan senja karena lautnya makin cemas.
Dingin membungkus sepagi itu, tak larut dalam genggaman malam. Hati masih risau, benih mutiara hanya sunggingkan riak ombak menyapa tetamunya. Mentaripun masih mencari sandarannya di bahu bungalow. Sia-siakah perumpamaan yang dibangun dalam bingkai pesona panorama laut ? Entahlah, hanya hamparan pasir putih dan bukit yang mengitarinya yang dapat menjawabnya, memberikan kerisauan bagi karang biru yang mencumbui mahluk disekitarnya, dan ikan – ikan hias yang merana.
HARUSNYA PEMERINTAH MEMILIH TORO WAMBA
Belum lama usia pengembangan Toro Wamba sebagai zona pariwisata yang menjanjian, tiba-tiba hamparan pasirnya tak lagi merestui pelabuhan jiwa untuk tetap bersemedi dipelataran pasir putihnya yang indah. Sebab, tak lama lagi disebelah barat persis lokasi wisata tersebut akan dikembangkan usaha tambak seluas 8 hektar milik salah seorang pengusaha. Bahkan pengerjaannya sekarang telah digali berpetak – petak.
Bukan suatu kesalahan akan adanya pengembangan tambak di pinggir pantai seperti sekarang dan yang pernah ada sebelum itu dimanapun tempatnya. Tetapi, haruskah keindahan itu menjadi mubajir dan hambar bahkan tiada arti, tatkala hasil pembuangan dan sisa-sisa limbahnya bakal mencemari pantai Toro Wamba dan sekitarnya. Biota laut yang memiliki kekhasan harus rela berganti warna dan mengungsi ke tempat yang lebih aman dari polusi air. Atau mereka akan menjadi tumbal yang tiada artinya, sebab mereka adalah mahluk yang tak pernah paham bahasa manusia. Inilah ketakutan yang sesungguhnya dikemudian hari yang perlu dipikirkan
Disatu sisi pengembangan tambak memang sangat menguntungkan baik bagi pengusaha sendiri, pemerintah daerah dan masyarakat itupun jika dilibatkan dalam pengelolaannya sebagai tenaga kerja. Namun, kerusakan lingkungan tidak dapat dibayar dengan uang milyar sekalipun. Sebab, Sang Maha Pencipta hanya menciptakan sekali saja keindahan tersebut, tidak dua kali. Karena itu pemerintah perlu melakukan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) terhadap pengembangan tambak. Perlu diingat, dibeberapa tempat pengerukan tambak, hanya menyisakan tanah-tanah mati.
Salah seorang yang kami ajak wawancara di lokasi wisata Toro Wamba mengatakan, sepintas kehadiran pengembangan tambak sangat baik dan menguntungkan. Selain, membuka peluang kerja bernilai ekonomi. Namun, limbah sisa buangan dari tambak itu nantinya menyebabkan pencemaran terhadap air laut. Padahal daya tarik di pantai Toro Wamba adalah air laut yang sangat jernih, jauh dari polusi limbah, dan terkenal sangat bersih. Terumbu karangnya membiru mata batin menghipnotis hingga lelah pun tak terpatri ketika kita berada di dekatnya.
Lebih lanjut dikatakannya, dijadikan pantai Toro Wamba sebagai daerah tujuan wisata sangat berdampak positif terhadap kelestarian terumbu karang. “…Makanya, orang-orang senang kesini. Bahkan sejak dibukanya lokasi tersebut untuk tempat wisata, perburuan dan pengeboman ikan sudah tidak ada lagi…”. Ini berarti, satu kali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Ada dampak secara ekologis yang diperoleh dari pengembangan pantai Toro Wamba sebagai daerah tujuan wisata.
Senada dengan itu, pengunjung yang lain mengatakan kalau seandainya pantai yang indah ini dengan panorama pasir putih dan terumbu karangnya tercemar limbah pembuangan tambak, maka sangat disayangkan. Apalagi, tempat ini kini sudah mulai tertata rapi. ”…Sekarang saja sudah terlihat kerusakan pantai, akibat pengerukan pasir di sekitar lokasi itu, apalagi jika nantinya tambak-tambak sudah beroperasi. Ini sungguh disayangkan, harusnya pemerintah dapat mengkaji akibat yang ditimbulkannya ketimbang mencari solusi ketika semuanya terlanjur terjadi…”
Hal lain yang juga menjadi sorotannya, para nelayan tidak lagi leluasa melaut, asa dan keinginan mendapatkan hasil tangkapan yang bisa mencukupi kebutuhan keluarga sirna sudah. Sebab, biota-biota disekitarnyapun tak rela melabuhkan anggannya mendekati pantai. Inipun menjadi sebuah pilihan di antara kecemasan yang bakal membumi. Pertanyaannya kemana para nelayan itu bertepi merajut asa?
Karang-karang biru penyaksi tak mampu membendung, butir-butir pasir bisu diterpa ombak, bertanya kemanakah nantinya deru ombak, hamparan karang biru dan buritan pasir putih? Ranting pohon asam menggerutu tebarkan kecutnya hawa siang, dan puluhan pohon asam tumbang dibuldoser pemangsa. Tak peduli tanah ini milik siapa, tak peduli siapa kawan siapa saudara. Matahari sematkan sombong di pundak bukit yang gersang.
Kelak panomanyanya menduka ketika akan menebarkan aroma kekhasannya. Bukannya wangi air laut yang dirasa, tetapi bangkai-bangkai biota laut yang ingin merasakan hidup terapung dalam cemas. Desahan sepoi angin tidak lagi sesegar kemarinnya, satu persatu bungalow akan ditinggalkan penghuninya. Sementara sang pujangga masih bersayir bersama kecemasannya, sebab ajal mendekati senja.
Meski cemas terus memburu, waktu masih tersisa walau sekedar untuk berdamai dengan keinginan., sejalan dengan keihlasan semua pihak duduk bersama demi pengembangan ekonomi lokal yang dapat mensejahterakan masyarakat . Ayo, mumpung matahari belum tertidur, dan pasir putihnya masih angkuh, dan terumbu karang masih sombong dengan warna – warninya yang indah.

2 komentar:

Sungai Awan on 1 Oktober 2010 pukul 23.21 mengatakan...

memang selama ini selalu jadi dilema saja kawand

mbozo.neva on 3 Oktober 2010 pukul 22.44 mengatakan...

tidak juga sih kawan

Posting Komentar

 

Friends

url=http://www.buxp.info/advertise.php?ar=mbozoranevaku][img]http://buxp.net/images/b2.gif[/img][/url]

Followers

Enter a long URL to make tiny:

Fave This

MBOZO RANEVA Copyright © 2009 Not Magazine 4 Column is Designed by Ipietoon Sponsored by Dezigntuts